Setelah melakukan analisa terhadap beberapa komentar pembaca pada berita-berita yang berhubungan dengan kontroversi medis, kami memutuskan untuk merangkumnya dalam flowchart ini. Selamat menikmati.

Setelah melakukan analisa terhadap beberapa komentar pembaca pada berita-berita yang berhubungan dengan kontroversi medis, kami memutuskan untuk merangkumnya dalam flowchart ini. 

Selamat menikmati.

Kasus Bayi Dera: Sebuah Catatan Kecil Tentang Pemberitaan Medis di Indonesia

Salam sejawat,

Bidang kedokteran memang paling empuk dijadikan sasaran bulan-bulanan. Baru-baru ini ada berita menghebohkan: bayi mungil Dera tidak bisa mendapat penanganan di NICU karena keterbatasan alat dan fasilitas. Kami turut prihatin atas kehilangan pihak keluarga atas kejadian yang tidak diinginkan ini. Setiap kematian bayi adalah kejadian yang memilukan, apapun sebab dan alasannya.

Tapi, kemudian berita ini diangkat dengan judul bertema “Bayi Dera DITOLAK di 8 Rumah Sakit”. Kata ‘ditolak’ adalah bentuk kalimat pasif yang menunjukkan ada ‘pelaku penolakan’. Siapa pelakunya? Jelas orang akan segera berpikir: Rumah Sakit! Menkes Nafsiah Mboi sudah mencoba menjelaskan bahwa ini bukan kasus pasien ditolak, melainkan Rumah Sakit tidak memiliki tempat dan fasilitas untuk menampung pasien lagi.

Tentu saja kami berharap orang seperti ini yang muncul

Namun, para pembaca tampaknya lebih tertarik dengan tema “pasien ditolak” daripada “rumah sakit tidak memiliki fasilitas untuk menampung pasien lagi”. Akhirnya, kita bisa lihat komentar-komentar pembaca di berita-berita tersebut yang dengan semangat ikut menjelek-jelekkan dokter, Rumah Sakit, dan pelayanan kesehatan Indonesia. Ini bukti bahwa pesan baik yang ingin disampaikan berita tersebut tidak diterima masyarakat dengan jelas. Pesan yang nempel hanya “Rumah Sakit itu pilih kasih, suka nolak pasien tidak mampu. Ayo rame-rame kita salahkan”

Sudah bisa ditebak, yang muncul malah orang seperti ini

Di sisi lain, ada pihak yang mencoba tampil memberikan komentar tentang hal ini. Tidak ada yang salah dengan memberikan komentar, hanya saja mungkin kompetensi orang tersebut harus dipertimbangkan sebelum dibiarkan pendapatnya tertulis dan dibaca jutaan orang.

Berikut contohnya bila kalangan non-medis memberikan pendapat pada hal ini, fokusnya pada biaya saja: “Wanda menjelaskan harga sebuah ruang NICU sekitar Rp 2 miliar. Bila ada hibah untuk 44 puskesmas, maka butuh dana Rp 88 miliar”

“Kenapa? Hmmm… karena pendapat seorang dokter spesialis anak konsultan perinatologi kurang menarik untuk dijual ke masyarakat?”

Bu Wanda yang terhormat, NICU itu bukan ruang mainan anak. Bila Anda berani mengadakan NICU untuk 44 puskesmas, Anda harus berani menyiapkan 44 dokter spesialis anak konsultan perinatologi untuk ditugaskan di setiap puskesmas tersebut.

Lebih lanjut lagi, beliau juga memberikan pernyataan yang masuk akal, seperti “Dokter spesialis juga harus ditambah”. Kami memutuskan untuk tidak memberikan komentar panjang lebar akan hal ini. Biarkan kami menampilkan gambar ini saja, selamat merenung.

“Kita butuh 3000 dokter spesialis anak baru. Udah, koas yang lagi di stase anak langsung diambil jadi PPDS Dept Anak saja!”

Saya percaya suatu hari nanti pihak medis dan dunia pers bisa berjalan berdampingan dengan rukun. Suatu hari nanti, mungkin media pers akhirnya akan rela mengangkat kejadian yang sudah terjadi sehari-hari dalam dunia medis, tapi sayangnya tidak pernah diberitakan secara besar-besaran. Kalau boleh, akan kami bantu tuliskan:

“Rumah Sakit Umum Daerah menangani pasien miskin. Semua biaya pengobatan gratis. Pasien mengaku puas dan mengatakan tidak keberatan dengan prosedur pendaftaran yang harus dilakukan. Karena berita ini terlalu baik, kami memutuskan untuk tidak mengabarkannya kepada pembaca. Alasannya karena berita ini tidak menjual.”

Semoga suatu hari berita ini benar-benar muncul. Mari kita tunggu sama-sama.

(ndreamon)

EDIT: Seorang sahabat saya (Rendi Kristyadi) memberikan bahan bacaan yang SANGAT MENARIK untuk menambah pengetahuan kita semua. Tulisan ini berjudul Malapraktik Wartawan, karya Dr. Erfen Gustiawan Suwangto. Beliau adalah Mahasiswa Pascasarjana Hukum Kesehatan Unika Soegijapranata.

Mahasiswa Kedokteran akan Dilibatkan  Dalam Pembuatan Soal Ujian

Berita Racun, Oktober 2012
Menyusul banyaknya keluhan tentang soal ujian inisiasi dokter, mahasiswa kedokteran akan dilibatkan dalam pembuatan soal. Hal ini diajukan dalam pertemuan nasional Wali Ujian Inisiasi Dokter Indonesia Holistik (WUIDIH) awal bulan Oktober ini.

“Mahasiswa mengeluhkan soal Ujian Inisiasi Dokter Indonesia (UIDI) sering di luar topik bahasan yang mereka pelajari di kampus,” ujar dokter Kudi, ketua WUIDIH kepada tim Koas Racun. “Beberapa lain menyatakan tata bahasa dalam soal UIDI sulit dipahami. Atas dasar ini, kami memutuskan untuk mengajak mahasiswa berkontribusi dalam pembuatan soal.”

Menurut dokter Kudi, soal buatan mahasiswa akan dimuat dalam ujian inisiasi dokter dengan kuota 10% dari seluruh soal. Dengan demikian, dalam ujian inisiasi selanjutnya kita bisa menemukan 20 soal yang murni merupakan karya mahasiswa, yang sudah diseleksi ketat oleh dewan WUIDIH.

Namun, pembuatan soal ini mendapat kecaman keras dari anggota WUIDIH yang lain. Alasannya bukan karena rendahnya kualitas soal yang diajukan mahasiswa, tapi karena pilihan jawaban yang terkesan main-main. Salah seorang anggota WUIDIH menekankan, “kami kaget membaca set soal yang diajukan oleh mahasiswa. Kalau sampai soal ini berhasil masuk ke UIDI, hal ini dikhawatirkan mengganggu konsentrasi peserta yang mengerjakannya.”

Anggota ini kemudian memberikan contoh soal buatan mahasiswa yang dipermasalahkan:

Soal empati dan komunikasi
Seorang pria berusia 55 tahun dengan penurunan kesadaran mendadak dibawa oleh anak wanitanya yang masih berusia 25 tahun. Wanita ini tampak sangat panik, sehingga ketika dianamnesis dia memberikan informasi yang tidak jelas. 
Ketika ditanyakan tentang riwayat penyakit sekarang, wanta ini terus berulang-ulang menjelaskan kalau si Bapak memiliki riwayat sakit gula dan darah tinggi, dengan GDS tertinggi 400 dan tensi tertinggi 220/140.
Yang sebaiknya anda katakan kepada wanita ini adalah…
A. Muter-muter deh, jadi gimana yang terjadi sebelum bapak pingsan ya?!
B. Bu, ini udah ke-7 kalinya saya dengar rekor gula darah dan tensi bapak.
C. Jadi, gue harus salto sambil bilang WOW, gitu?
D. *sambil angkat telapak* NGOMONG SAMA TANGAN!
E. Baik, Mbak. Kami sudah jelas tentang riwayat penyakit bapak. Nah, sebelum dibawa ke sini, apa yang sempat dikeluhkan bapak?

Soal Endokrinologi
Seorang pria minum 2 liter air sekaligus. Kejadian yang akan dialami pria ini adalah…
A. Sekresi ADH berkurang.
B. Kembung.
C. Eneg.
D. Muntah.
E. Menyesal.

Soal Psikiatri
Seorang pria 17 tahun merasa sedih setelah gagal mendekati wanita untuk ke-10 kalinya. Dia sangat terpukul sampai tidak bisa melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Saran yang anda berikan pada pria ini adalah…
A. Cari gebetan lagi.
B. Karaoke lagu galau bersama teman-teman.
C. Menjalani psikoterapi di psikiater.
D. Ngaca.
E. Terima nasib.

Soal forensik
Seorang pria ditembak dengan shotgun di bagian kepala. Penyebab kematian pada pria ini…
A. Kerusakan otak luas disertai mati batang otak.
B. Masih dicari oleh kepolisian.
C. Nasib, umur manusia siapa yang tahu.
D. Kaget berlebihan sehingga jantung copot dari pembuluh darahnya.
E. Lah ditembak shotgun, menurut loe?!

Perdebatan tentang hal ini masih akan dikaji lebih dalam lagi.  Selagi menunggu keputusan akhir, mahasiswa peserta UIDI diharap tidak terlalu banyak berkhayal dan tetap fokus pada ujian yang akan dihadapi saja.

(ndreamon)

IDIH Akan Studi Banding Perihal Logo ‘Ular Aesculapius’

Berita racun, September 2012.

IDIH (Ikatan Dokter Intelek dan Humanis), suatu badan binaan DPR RI, merencanakan untuk melaksanakan studi banding ke Yunani, India, Australia, Brazil, dan Antartika untuk menjawab pertanyaan seputar jenis spesies ular di lambang kedokteran, yaitu di tongkat Aesculapius.

Seperti yang sudah kita ketahui, lambang medis kerap kali  dihubungkan dengan ular. Lambang kedokteran berupa ular yang melilit tongkat. Lambang apotek menyertakan ular dalam gambar gelasnya.  Bahkan, logo IDIH juga tak lepas dari ular ini.

“Kami malu sekali tidak mampu menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa kedokteran yang kritis mengenai spesies ular tersebut. Bagaimana mungkin sebuah lambang yang digunakan ribuan tahun tidak diketahui asal-usul spesies ularnya?” jelas sekjen IDIH dokter Dubia kepada tim Koas Racun.

Sekjen IDIH dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa studi banding ini akan jauh lebih bermanfaat daripada studi banding lambang PMI yang dilakukan pada waktu yang sama oleh DPR. Pasalnya, rencana DPR untuk melakukan studi banding ke Turki dan Denmark yang akan menghabiskan uang negara sebesar 1,3 milyar rupiah ini dianggap tidak mendesak dan tidak jelas.

“Studi yang dilakukan IDIH ini lebih terencana. Kami menggunakan metode ilmiah dalam bentuk retrospective cohort study dengan merujuk Yunani sebagai tinjauan pustaka asal logo tersebut. Kami juga memilih India, Australia, dan Brazil sebagai negara dengan varian ular terbesar sebagai kelompok sampel, serta Antartika sebagai kelompok kontrol,” jelas dokter dengan nama lengkap Dubia bin Bona M ini.

Sekjen IDIH mengaku bahwa sumber dana untuk studi banding ini berasal dari realokasi dana Jamkesmas sebesar 69%. “Toh pasien sakit yang miskin tidak akan habis-habis juga, baik disunat dananya ataupun tidak. Tapi studi banding yang cuma sekali seumur hidup ini nantinya akan menginspirasi dokter-dokter muda yang jauh lebih berpotensi dan bersedia mengabdi bagi nusa dan bangsa.”

Setelah studi banding ini dilaksanakan, IDIH juga berencana melakukan studi banding untuk beberapa topik lain. “Selanjutnya, kami akan meneliti insidensi kesurupan di Dunia Fantasi dibandingkan dengan kesurupan di Universal Studio Singapore dan Disney Land di Jepang. Semua ini demi kemajuan dunia pendidikan kedokteran di tanah air.”

(Rodri T)

Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS?

Berita Racun, Agustus 2012

Dahulu kala, dalam sebuah acara kuis di televisi yang mengharuskan pesertanya menebak hasil survey, salah satu pertanyaannya berbunyi demikian “Kalimat apa yang diucapkan dokter kepada pasien?” Ketika sang pembawa acara berteriak “survey membuktikan…” tampak jawaban-jawaban mulai tersibak satu persatu. Beberapa jawaban terpopuler adalah “bilang aaa…”, “buka bajunya”, sampai ke “bayarnya di depan, Bu”.

Acara kuis ini mengusik peneliti dari Lembaga Pemerhati Ucapan Anda atau yang merasa lebih gaul disebut LEMPER PANDA. “Ucapan anda sangat berpengaruh dalam relasi dengan sesama, hal ini tentunya lebih signifikan dalam bidang pelayanan seperti dunia kedokteran, misalnya,” ujar Alfa, ketua peneliti. Lemper Panda menjelaskan pada Koas Racun dalam presentasi  penelitian dengan judul “Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS?”

Teori tentang ucapan di atas menjelaskan mengapa dalam pendidikan kedokteran, mahasiswa tidak hanya diajarkan keterampilan medis, tapi juga keterampilan komunikasi. “Pasien ingin merasa nyaman berbicara dengan dokter. Mereka ingin dokter yang bisa mendengarkan secara efektif,” jelas pria yang mengaku bernama lengkap Alfa Bravo Charlie Delta Echo Foxtrot Golf Hotel India Juliet Kilo Lima Mike November Oscar Papa Quebec Romeo Sierra Tango Uniform Victor Whiskey ini.

Menurut Alfa, perkataan dokter di Rumah Sakit berpotensi sangat menentukan persepsi pasien dengan kesehatannya. Pemilihan kalimat seperti “bapak perlu kesabaran ekstra untuk bisa sembuh sempurna” dinilai lebih baik dibandingkan “bapak bakal lama nih sakitnya”. Pasalnya, kalimat ini memberikan efek sugesti yang baik kepada pasien dengan melibatkan kata positif yaitu ‘sabar’ dan ‘sembuh’.

Maka dari itu, para peneliti disebar di sepuluh RS pendidikan seluruh Indonesia untuk mengumpulkan data seputar kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS. Tujuannya, menganalisis perkataan yang paling sering diucapkan sekaligus pengaruhnya kepada suasana di lokasi kerja dokter.

Setelah penelitian selama 14  hari dengan mengambil latar IGD, para peneliti ini kecewa karena hasil yang mereka dapatkan tampaknya tidak memuaskan. Berikut adalah kalimat yang ternyata paling sering diucapkan oleh dokter maupun dokter muda di RS:
1. “Duh, pulpen gue mana ya?” Kalimat ini diucapkan sesaat sebelum menulis lembar status pasien atau lembar resep.
2. “Duh, rame banget sih…” kalimat ini juga kalimat yang sudah bosan didengar para peneliti Lemper Panda.
3. “Dek koas…!” dan variannya (misalnya, “mas koas…!”)  Kalimat ini diucapkan terutama di IGD, sering diucapkan oleh dokter PPDS atau perawat. Kalimat ini umumnya dilanjutkan dengan bermacam-macam kalimat perintah.

Walaupun gagal, penelitian ini membuka wawasan baru bahwa walaupun berasal dari latar berbeda, para dokter memiliki pola ucapan yang sama. Setelah ini, pak Alfa berencana mengulang penelitian dengan modifikasi judul “Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter kepada pasien?”

(ndreamon)